The Last Tone

Hanya tinggal menghitung menit, tahun akan segera berganti. Sebagian orang akan berbondong-bondong membuat pengharapan dan menulis banyak resolusi. Dan bagi mereka yang hanya menjalani hidup bagai air mengalir tanpa perlu bersusah-susah membuat rencana yang tidak pasti, mereka hanya akan ikut larut dalam ingar-bingar pesta tahun baru.
Seseorang yang setiap tahunnya hanya bisa menikmati kemeriahan tahun baru lewat jendela kamarnya, dia tidak pernah berharap banyak hal dalam hidupnya. Dia hanya meminta satu permintaan sederhana, semoga di tahun-tahun berikutnya dia masih dapat melihat kemeriahan pergantian tahun itu bersama dengan orang-orang yang dia cintai. Hanya itu, satu permintaan yang sangat sederhana.
 Sedetik kemudian, satu-persatu kembang api melesat cepat bak roket yang kemudian membuncahkan cahaya warna-warni, menghiasi langit malam yang pekat. Suara terompet mulai bersahutan melengkapi kemeriahan malam itu. Semua orang bersuka-cita seolah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan mengenai hari esok.
“Happy new year, Pah.”
“Happy new year, Sayang.” Balas sang ayah sambil memeluk putrinya.
***
Satu minggu berlalu setelah pesta meriah tahun baru, dan semua orang tetap melakukan rutinitas yang sama. Begitu pula dengan Ziesa, gadis yang kini hanya tinggal berdua dengan sang ayah setelah kepergian ibunya tiga tahun yang lalu, kembali mengerjakan rutinitas seperti biasa. Sekolah. Pagi-pagi ia telah bangun, bersiap-siap untuk sekolah dan kadang-kadang membantu pelayan rumahnya menyiapkan sarapan.
“Papa harus ke luar kota selama tiga hari, Zie gak apa-apa kan ditinggal di rumah sama Bi Han?”
Zie menggangguk mengerti, toh ini bukan untuk pertama kalinya ia ditinggal hanya bersama Bi Han di rumah.
“Oke, pokoknya kalau ada apa-apa Zie harus langsung telfon Papa. Mengerti?”
“Iya, dimengerti Pah.” Jawab Zie sambil tersenyum.
            Bel masuk belum berdering. Suasana kelas masih tampak riuh. Anak-anak masih terdengar antusias menceritakan acara tahun baru mereka. Gelak tawa memenuhi sesisi ruangan. Tidak terkecuali dengan Zie, gadis itu juga turut membaur dalam keramaian susasa kelas. Ia tengah mendengarkan cerita menarik dari teman-temannya saat malam tahun baru. Zie sendiri tidak dapat bercerita banyak tentang pengalaman tahun barunya, karena setiap tahun ia hanya akan menyaksikan keramaian tahun baru dari dalam rumah. Ayahnya tentu tidak pernah mengijinkan Zie keluar malam-malam. Tapi hal itu sama sekali tidak mengganggunya, ia tahu jika apa yang ayahnya larang adalah demi kebaikannya.  Keriuhan masih berlanjut hingga suara bel masuk membubarkan “pasar” yang terjadi di dalam kelas itu.
Waktu seolah berjalan cepat, tidak terasa jam sekolah berakhir. Anak-anak yang semula tidak bersemangat dan bahkan hampir tertidur di jam pelajaran terakhir, kini kembali segar saat bel pulang sekolah berdering. Sebagian besar teman-teman Zie sudah bergegas pulang, namun tidak demikian dengannya. Ia masih harus melakukan latihan dengan sahabatnya Sean. Ya, keduanya telah ditunjuk oleh pihak sekolah untuk mengikuti International Classical Music Competition yang akan diadakan di Vienna enam bulan lagi. Meski masih terbilang lama, namun keduanya telah memulai untuk latihan sejak jauh-jauh hari, karena kompetisi ini bukanlah hal yang main-main bagi keduanya. Salah satu motivasi terbesar mereka adalah beasiswa penuh untuk masuk sekolah musik paling bergengsi di dunia. Jika mereka mampu lolos ke lima besar.
Baik Zie maupun Sean, keduanya  ditunjuk bukan tanpa alasan. Sudah menjadi rahasia umum jika Ziesa Leandra merupakan putri dari pianis hebat dunia Queensha Judith. Zie sendiri telah bermain piano sejak usia dua tahun dan sejak saat itu berbagai kompetisi telah ia menangkan. Dan Sean Mahesa adalah violinist muda yang juga telah banyak memenangkan berbagai kompetisi sejak ia berusia delapan tahun.  Tidak heran jika pihak sekolah begitu yakin akan potensi besar mereka mampu memenangkan kompetisi paling bergengsi tersebut.
Keduanya sudah berada di ruang musik. Zie sudah beberapa kali memainkan komposisi melodi yang sudah seminggu ini ia buat. Namun, gadis itu masih merasa ada yang belum pas dengan komposisi melodi tersebut, entah apa, ia masih belum yakin.
“Kamu mendengar ada sesuatu yang gak pas dilagu ku kan?” Tanya Zie pada Sean yang sejak tadi sibuk membetulkan Bow biola nya.
Sean masih tidak menggubris ucapan Zie.
“Sean!!” Untuk kedua kalinya Zie memanggil dengan intonasi suara yang lebih kencang.
“Ya? Apa?” Sean dengan wajah polos menoleh ke arah Zie. Melihat wajah Zie yang tampak kusut. Ia segera mendekat dengan memasang senyuman.
“Apa? Kenapa?” Tanyanya lembut.
“Ah… sudahlah, urusi aja tuh biola kamu. Udah sana-sana…” Zie sudah tidak berselera meminta pendapat Sean.
Sean sudah sangat mengenal perempuan dihadapannya itu, ia tahu bagaimana menghadapi Zie saat gadis itu mulai tampak kesal. Sean mendekat ke arah Zie, meminta gadis itu untuk menggeser posisi duduknya. Ia meminta kertas musik yang sejak tadi dipegang Zie dan meletakkannya di depan piano. Sean mulai memainkan lagu yang Zie buat. Setelah lagu itu selesai ia mainkan. Sean diam untuk sesaat, memainkan kembali komposisi melodi itu dengan mata terpejam.
“Sebenarnya di awal, lagu ini indah, melodinya begitu lembut. Tapi dibagian tengah hingga akhir, ini terdengar datar dan kehilangan jiwanya.” Jelas Sean setelah mencoba berkali-kali memainkan lagu milik Zie.
Gadis itu sudah menduga, jika di bagian tengah dan akhir lagu itu tidak sempurna. Ia sendiri sudah mencoba berulang kali merubah komposisinya, namun hasilnya masih tetap sama. Lagu itu terdengar kosong pada bagian tengah dan akhir. Zie sudah mulai frustasi.
“Udah gak perlu sampe se-frustasi itu. Gimana kalau bagian tengah dan akhirnya aku yang buat?” Ucap Sean sambil mengacak rambut Zie dengan lembut.
Zie masih tampak menimbang-nimbang. Tapi akhirnya gadis itu menerima tawaran Sean. Zie kemudian tersenyum. “Itu berarti ini akan jadi lagu pertama kolaborasi kita ya? Kamu harus membuatnya seindah mungkin supaya kita bisa menang di kompetisi ini.” Pinta Zie.
Sean tersenyum dan menarik tangan Zie. Kedua kelingking mereka saling beradu. “Ini janji aku sama kamu, aku akan buat lagu kita menjadi lagu paling indah.” Ucap Sean tampak bersungguh-sungguh. Zie kembali tersenyum. Ia yakin Sean mampu melakukannya.
“Ayah kamu lagi di luar kota kan? Kamu pulang bareng aku aja.” Pinta Sean saat keduanya telah selesai latihan. Zie mengangguk setuju.
Keduanya kini sudah berada di dalam mobil Sean. Sean meminta supirnya untuk mengantar Zie terlebih dahulu. Laju mobil pun mengarah ke alamat rumah Zie. Matahari hampir tenggelam saat mobil melaju di jalan raya yang tampak lumayan ramai.
Zie tidak banyak bercakap-cakap dengan Sean sepanjang perjalanan. Begitu pun dengan Sean. Semenjak keduanya beranjak remaja, Sean merasa seolah ada dinding pembatas antara dirinya dengan Zie. Bagi Sean, Zie bukan lagi sahabat kecilnya yang dulu. Zie kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan mempesona di mata Sean. Ada perasaan aneh setiap kali ia menatap Zie yang membuat Sean merasa canggung.
Tanpa Sean sadari, Zie pun merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Sean. Gadis itu tidak dapat sebebas dulu bergaul dengan Sean. Bagi Zie, laki-laki yang kini berada di sebelahnya selalu membuat perasaanya menjadi tidak menentu. Entahlah, Zie masih belum berani menterjemahkan perasaan yang kini dirasakannya. Terlebih mereka telah dekat hampir separuh usia mereka.
Laju mobil semakin cepat saat menerobos jalanan lengang. Zie dan Sean masih sibuk dalam fikirannya masing-masing. Hingga sesuatu menubruk dengan keras bagian samping mobil Sean yang membuat mobil yang mereka tumpangi terseret hingga lima belas meter dan menabrak pembatas jalan, sebelum akhirnya terjungkal. Kecelakaan tak terelakan antara mobil sedan Sean dengan sebuah mobil kontener barang.
Tidak berapa lama, ruas jalan yang tadinya sepi, mulai ramai orang-orang berdatangan. Ambulans, polisi, dan reporter berita mulai memadati tempat kejadian. Dua orang siswa dan seorang laki-laki dalam mobil yang terjungkal segera dilarikan ke rumah sakit.
Ayah Zie yang berada di luar kota bergegas pulang. Sedangkan keluarga Sean telah berada di rumah sakit, tengah berharap-harap cemas menunggu hasil operasi putranya. Hampir dua jam lebih operasi dilakukan terhadap Sean. Seluruh keluarga terus ber-doa agar tidak terjadi apa-apa dengan putra mereka. Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruang operasi, kedua orang tua Sean dengan wajah penuh kecemasan meminta keterangan dari sang dokter. Dokter menjelaskan jika operasi telah berhasil dan kondisi putra mereka dalam keadaan stabil. Tentu berita itu menjadi angin segar bagi kedua orang tuanya. Kini mereka dapat bernafas lega. 
Sedangkan Zie, gadis itu masih berada di ruang operasi. Luka yang dialamai  Zie lebih parah. Tim dokter tengah berusaha menyelamatkan nyawa gadis malang itu. Ayahnya yang sudah tiba di rumah sakit kini tengah tertunduk lesu di kursi ruang tunggu. Tak henti-hentinya ia berdoa untuk keselamat putrinya.
Seorang dokter keluar dari ruang operasi. Dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, pria paruh baya itu menghampiri sang dokter, menanyakan tentang keadaan putrinya. Dokter tidak dapat berkata banyak, setidaknya kabar baiknya operasi Zie berhasil dilakukan. Tapi, mungkin mulai saat itu Zie tidak akan bisa melihat lagi. Saraf penglihatan gadis itu mengalami kerusakan.
Entah ini cobaan seperti apa lagi yang tengah Tuhan berikan untuk putrinya. Zie, putri semata wayangnya tidak dapat melihat. Tidak hanya itu, dokter mengatakan bahwa kondisi jantung Zie semakin parah. Dimungkinkan jika Zie tidak dapat bertahan lama dengan kondisinya yang sekarang.
Ayah memeluk tubuh putrinya yang kini sudah berada di ruang ICU. Mencoba menahan tangisnya yang hampir pecah saat harus mengingat kembali kata-kata dokter mengenai hidup putrinya. Zie memang sudah lama menderita kelainan jantung, penyakit yang dideritanya sejak gadis itu berusia sepuluh tahun. Dan setelah tujuh tahun bertahan hidup, kini putrinya harus di hadapkan pada kenyataan jika jantungnya tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Air mata ayah nyatanya sudah jatuh bercucuran membasahi wajahnya yang kuyu.  Jika ia bisa memohon pada Tuhan untuk menukar kondisi putrinya dengan dirinya, sungguh ia akan melakukannya saat itu juga.  Ia tidak dapat membayangkan putrinya akan menghabiskan sisa hidupnya dengan kebutaan dan rasa sakit yang luar biasa karena penyakitnya.
Sebulan berlalu setelah kejadian itu. Zie masih belum masuk sekolah. Gadis itu lebih suka mengurung dirinya di dalam kamar. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa dengan keterbatasan yang sekarang harus ia alami. Bahkan ia telah meminta mengundurkan diri dari kompetisi yang akan ia ikuti dengan Sean. Zie sudah tidak lagi memiliki kepercayaan diri untuk kembali bermain piano. Lagi pula ia tahu, kondisi jantungnya mulai memburuk, mungkin ia juga tidak akan sempat untuk mengikuti perlombaan itu. Kini, ia hanya ingin menyendiri, menghabiskan sisa hidupnya yang tampak seperti bom waktu, yang entah kapan waktunya akan berhenti dan meledakkan semuanya.
“Sayang…” Ayah masuk kedalam kamar Zie yang di lihatnya tengah berdiri di teras balkon.
Zie yang mendengar suara ayahnya segera membalikan badannya. Meraba-raba keadaan disekitarnya. Melangkah setapak-demi setapak untuk mencari keberadaan ayahnya. Ia masih harus beradaptasi dengan kondisinya yang sekarang.
Ayah menghampiri putrinya, menggenggam tangan mungil putri kecilnya itu. Membawa Zie duduk di kursi panjang yang terdapat di teras balkon.
“Papa udah pulang kerja?” Tanya Zie saat keduanya telah duduk.
Ayah mengelus lembut rambut putrinya dengan penuh kasih. “Iya papa udah pulang. Oh iya, Zie bosen gak di rumah? Gimana kalau akhir pekan ini kita pergi berlibur?”
Zie tersenyum mendengar ajakan ayahnya. Kalau difikir-fikir memang sudah lama ia dan ayahnya tidak pergi berlibur bersama. “Boleh, itu pasti menyenangkan. Gimana kalau kita pergi ke peternakan kakek.” Gadis itu teringat akan tempat liburan favoritnya saat ia masih kecil.
Ayah menyetujuinya. Akhir pekan nanti, ia akan pergi dengan putrinya berkunjung ke rumah kakek dan nenek Zie dan menghabiskan akhir pekan di peternakan seperti saat Zie masih kecil. Ayah sangat berharap jika situasi yang menyenangkan akan membuat kondisi putrinya dapat lebih baik.
“Pah…”
“Ya?”
Gadis itu memeluk ayahnya dengan erat. “Maafin Zie ya…” Ucapnya lirih.
“Maaf kenapa? Zie gak pernah buat salah sama papa.” Ayah mendekap putrinya semakin erat.
“Maafin Zie, karena hidup Zie bikin susah papah. Maafin Zie kalau nanti… Zie gak bisa nemenin papa lagi. Zie minta maaf… ”Suara gadis itu tercekat. Air matanya mulai berguguran. Hatinya sakit saat menyadari jika tidak lama lagi kedua tangannya tidak akan pernah bisa memeluk ayahnya seperti saat ini. Gadis itu pun bersyukur atas rencana Tuhan yang membuatnya tidak dapat melihat lagi. Dengan begitu, ketika tiba saatnya ia pergi, ia tidak perlu melihat wajah sedih ayahnya yang begitu ia cintai. Karena pada kenyataannya, orang yang meninggalkan akan sama sakitnya dengan orang yang ditinggalkan.
Ayah menangis dalam dekapannya, mencium kepala putrinya. “Zie tahu, Zie adalah hadiah terindah yang pernah Tuhan beri dalam hidup papa. Zie tidak pernah membuat papa susah, sayang.”
Keduanya saling mendekap dan saling menguatkan. Dalam pelukan itu, Zie hanya memohon kepada Tuhan agar Tuhan menjaga ayahnya jika ia sudah tidak dapat lagi menemani ayahnya. Ia berdoa agar Tuhan melimpahkan kebahagiaan pada ayahnya saat ia telah tidak dapat lagi memeluk ayahnya seperti saat ini.     
Hampir sebulan Zie belum masuk sekolah. Kasak-kusuk kondisi Zie pun telah beredar luas di sekolah. Teman-teman dan guru-guru sekolah merasa prihatin dengan kondisinya. Sean yang sudah mengetahui kondisi Zie tidak dapat berdiam diri lagi, ia memutuskan untuk menemui Zie. Dibandingkan siapapun, Sean mungkin menjadi salah seorang yang paling terpukul atas apa yang menimpa sahabatnya, setelah ayah Ziesa tentunya.
“Apa kamu ingin menyerah begitu saja?!”
Suara Sean mengejutkan Zie yang tengah duduk di halaman belakang rumahnya. Ia tidak dapat melihat keberadaan Sean, tapi ia dapat merasakan jika laki-laki itu tengah melangkah mendekat ke arahnya.
Sean kini telah duduk di sebelah Zie, menatap wajah gadis itu dengan tatapan nanar. Kini yang ingin ia lakukan hanyalah mendekap gadis disampingnya dan meyakinkannya bahwa semua pasti akan baik-baik saja.
“Kamu gak perlu mundur, kamu bisa terus maju. Selesaikan kompetisi itu dan jadilah juara.” Ucap Zie saat menyadari Sean sudah duduk di sebelahnya.
Sean menggenggam tangan Zie. “Kita pasti bisa melakukannya, kamu tahu kan kalau kamu ini seorang pianis hebat. Aku yakin kamu masih bisa bermain piano dengan hebat.”
Zie tersenyum getir mendengar ucapan Sean. Jika ia boleh jujur, ia pun masih ingin bermain piano, ia sangat mencintai piano. Ia juga yakin jika ia masih mampu bermain dengan sangat baik meski matanya kini tidak dapat lagi melihat. Tapi sayangnya, bukan itu alasan ia berhenti bermain piano. Bukan karena ia buta, ia mengundurkan diri dari kompetisi itu. Ini karena jantungnya yang tidak mengijinkannya. Ia mungkin tidak akan sempat mengikuti kompetisi yang diadakan lima bulan lagi.
“Aku yakin kamu tentu tahu kondisi aku Sean, aku mungkin….” Gadis itu tidak menyelesaikan ucapannya, karena Sean telah mendekapnya, mebawa Zie kedalam pelukannya. Memintanya untuk tidak melanjutkan kata-katanya lagi.
“Jangan dilanjutkan, aku mohon.” Ucap Sean seraya menahan air matanya.
Tanpa sadar Zie manangis dalam dekapan Sean. Entah kenapa hatinya teramat sakit saat ini, rasanya ini tidak adil untuknya. Sungguh, ia ingin dapat hidup lebih lama. Ia masih ingin bermain piano, ia masih ingin tinggal bersama ayahnya yang sangat ia cinta. Dan juga, ia masih ingin bersama Sean, sahabatnya yang mungkin kini menjadi laki-laki yang diam-diam tanpa sadar ia cintai. Zie jatuh pingsan dalam pelukan Sean sore itu. Jantungnya semakin melemah. 
Setiap hari Sean mulai datang ke rumah Zie. Memberi semangat kepada gadis itu. Dan jika bisa, ia tidak ingin meninggalkan Zie walau hanya sedetik. Ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan seseorang yang diam-diam ia cintai itu.
Seperti janji Sean pada Zie, bahwa ia akan melanjutkan lagu milik Zie dan mebuatnya menjadi lagu paling indah.
“Aku sudah menemukan komposisi melodi yang indah buat lagu kita.” Ucap Sean saat keduanya duduk di depan piano yang terletak di ruang tengah rumah Zie.
Dengan wajah yang semakin pucat gadis itu masih sanggup untuk tersenyum manis. “Coba aku mau dengar.” Pintanya pada Sean.
“Kalau gitu, kamu mainkan komposisi awalnya yang kamu buat, nanti aku yang akan mainkan bagian tengah dan akhir lagunya yang udah aku buat.”
Tanpa menunggu lama Zie sudah mulai melenggangkan jemarinya di atas tuts piano. Melodi itu begitu lembut dan indah. Permainan piano Zie masih sangat memukau. Setelah bagian awal hampir selesai, Sean telah bersiap-siap melanjutkan sisa lagu itu.
Kini giliran Sean yang memainkan sisa lagu milik Zie yang dibuatnya. Betapa terkejutnya Zie saat mendengar sisa lagunya yang dibuat Sean. Lagu itu indah, sangat indah. Di bagian tengah lagu itu memeliki tempo yang cepat, namun nadanya terasa menusuk hati. Zie merasakan ada emosi bercampur kepedihan mendalam yang ingin disampaikan Sean melalui lagu itu. Zie benar-benar bahagia sekarang, karena bagian kosong lagu itu telah sempurna. Gadis itu meneteskan air matanya, tersenyum mendengarkan alunan lagu yang telah disempurnakan oleh seseorang yang ia cintai.
Jika waktu dapat dihentikan sesaat saja, maka saat itu lah Zie menginginkan agar sang waktu dapat berhenti. Mengijinkannya sebentar saja merasakan kebahagiaan bersama dengan seseorang yang ia cintai. Zie tidak meminta banyak hal, ia hanya ingin memainkan lagu itu bersama dengan Sean hingga akhir. Namun tiba-tiba Zie kehilangan keseimbangan, tubuhnya ambruk ke arah Sean. Lagu itu belum selesai dimainkan.
Ziesa segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter tengah menangani Zie di dalam ruang perawatan. Sedangkan Ayah Zie dan Sean menunggu dengan cemas di luar. Beberapa menit kemudian dokter keluar.
“Maaf Pak Leo, putri anda… sudah tidak ada.”
Penjelasan singkat sang dokter membuat hancur kedua hati laki-laki yang begitu mencintai gadis itu. Ayah memeluk tubuh putrinya yang kini telah terbujur kaku. Sedangkan Sean hanya bisa memandangi wajah Ziesa yang begitu pucat dengan persaan yang teramat sakit. Ia masih belum selesai memainkan bagian akhir lagu itu. Ia ingin Ziesa mendengarnya, melodi terakhir lagu itu yang merupakan penyempurna lagu milik Ziesa. Ada pesan yang ingin disampaikan pada melodi terakhir lagu itu. Pesan yang menyatakan bahwa ia sangat mencintai Ziesa dengan segenap perasaanya. Ya, Sean ingin Zie tahu perasaan yang ia rasakan untuk gadis itu. Tapi Tuhan tampaknya tidak mengijinkannya. Tuhan meminta Sean menyimpannya dalam hatinya. Dan membiarkan perasaan itu tersimpan dengan indah pada melodi terakhir lagu Ziesa yang di sempurnakan olehnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer