My Shining Star
Sejenak ku tatap langit sore
yang mulai menjingga. Udara sore itu kubiarkan merengkuh tubuhku,
mengijinkannya menelusup masuk menguasai perasaan dan fikiranku bersamaan
dengan hangatnya sang mentari yang mulai perlahan kembali keperaduannya. Tak
terasa sebuah cairan jernih jatuh membasahi pipiku, mataku basah. Senja telah
berhasil membuatku menyerah pada sebuah kerinduan yang selalu kusimpan rapat
dalam hatiku
Awal pertemuan itu adalah
bagian yang tidak ingin ku ingat. Tapi segala kerinduan tentang dirinya,
membuat ku menyerah untuk melupakannya.
Dia, yang dengan tampang tak berdosa berlari menabrakku yang tengah
tergopoh-gopoh karena takut terlambat masuk kelas dihari pertamaku sekolah
sebagai salah satu murid baru. Saat itu aku cukup terkejut saat bahunya
menabrak bahuku dengan keras, hingga aku kehilangan keseimbangan dan nyaris
terjatuh. Alih-alih mendapatkan permintaan maaf darinya, dia malah terus
berlari menuju kelasnya tanpa memperdulikanku yang hampir tersungkur. Saat itu
aku sangat kesal dan mengumpatnya dalam kesalku. Dan hari pertamaku menjadi
hari yang sangat menyebalkan. Dia, seseorang yang telah membuatku hampir
terjatuh tanpa meminta maaf dan telah membuatku harus mendapatkan teguran dari
wali kelas di sekolah baruku karena terlambat masuk.
Aku tidak pernah berfikir
bahwa pertemuan pertama antara aku dan dia akan berlanjut. Aku selalu
menganggap kejadian yang terjadi secara spontan merupakan sebuah kebetulan
semata dan menganggapnya sebagai angin lalu. Seperti setiap hari kita bertemu
dengan banyak orang yang tidak kita kenal di jalan. Semua kejadian saat itu
hanya terjadi pada saat itu, semua peretemuan saat itu hanya terjadi pada saat
itu, tidak ada kelanjutan kisah berikutnya─Semua
berakhir diwaktu itu. Tetapi hukum tersebut tidak berlaku dalam hal ini, aku
kembali bertemu dengannya yang lagi-lagi mebuat sebuah masalah denganku.
Dia tengah bermain basket
dengan teman-temannya di jam istirahat. Entah bagaimana ceritanya bola basket
yang dia operkan kearah temannya yang berada dekat ring basket itu tiba-tiba
nyasar ke hidungku. Tentu saja aku sangat terkejut dengan hantaman yang
tiba-tiba datang dihadapanku. Mataku mulai terasa berkunang-kunang dan hidungku
mulai mengeluarkan dara segar. Salah seorang teman yang saat itu memang tengah
bersamaku membawaku keruang UKS. Hidungku di kompres dengan es oleh perawat
sekolah untuk menghentikan pendarahannya, sedangkan aku hanya bisa terbaring
dengan kepala yang masih sangat pusing. Dan tiba-tiba seseorang datang
menghampiriku. Seorang laki-laki berpakaian basket masuk dan mendekat kearahku
yang tengah terbaring sambil terus memegangi kompresan di hidungku.
“Hei… gimana keadaan kamu?”
Tanyanya saat jarak kami hanya terpisang 30 cm mungkin dari ranjang tempat
tidur UKS.
Saat itu untuk pertama
kalinya aku melihat wajahnya dari dekat. Wajah yang penuh dengan keringat dan
sedikit memerah karena sengatan matahari. Tetapi aku melihat sebuah pancaran
mata yang meneduhkan darinya.
“Kamu gak liat hidungku
harus di kompres, apa kayak gini bisa dibilang baik-baik saja.” Dengusku kesal
padanya.
“Maaf ya tadi lepas kontrol
pas ngoper bola. Oh iya maaf juga waktu itu aku pernah nabrak kamu di koridor.
Hopefully you’ll forgive me.”
Saat itu aku cukup terhenyak,
ternyata dia masih mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang hampir membuatku
jatuh di koridor sekolah. Aku fikir dia sudah lupa akan kejadian itu, malah ku
fikir dia sama sekali tidak pernah menganggap kejadian itu pernah terjadi. Tapi
semua fikiran burukku tentangnya seketika memudar setelah mendengar permintaan
maafnya. Aku melihat, laki-laki yang tengah berdiri disampingku sekarang
bukanlah seseorang yang menyebalkan seperti anggapanku sebelumnya.
“Iya gak apa-apa tapi aku
harap ini terakhir kalinya aku sial gara-gara tingkahmu itu.” Jawabku masih
dengan nada kesal sambil menahan rasa nyeri di hidungku.
“Ahaha… ok I promise. Oh iya
kamu siswi baru ya? Kita belum kenalan kalau gitu, kenalin namaku Bintang.” Dia
mengulurkan tangannya kearahku dan tanpa bisa menolak akupun menjabat
tangannya.
“Riri” Kusebutkan namaku
padanya yang hanya dibalas dengan sebuah senyuman. Senyuman termanis yang
pernah ku lihat.
“Ok, get well soon Ri… see
you.” Dia keluar dari ruang UKS.
Setelah kejadian bola basket
itu, entah mengapa seolah ada sebuah magnet yang menghubungkan antara kutub ku
dan kutubnya, yang membuat sebuah reaksi tarik-menarik. Aku selalu bertemu
dengannya, pertemuan yang tidak pernah disengaja. Semua itu terjadi dengan
begitu alaminya. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, saat aku berada di sebeuah
pusat perbelanjaan yang dipadati oleh berjubel orang, ada saja jalan yang
mengarahkanku pada sosoknya yang tiba-tiba kutemui juga disana. Aku
menganggapnya ini sebuah kebetulan, tetapi terlalu naif jika kusebut ini sebuah
kebetulan. Entah apa yang menuntunku padanya. Aku selalu berada dimana dia juga
berada. Dan karena pertemuan-pertemuan kita yang selalu tak terduga itulah aku
menjadi dekat dengannya. Bagiku tidak ada alasan untuk menolak hal ini, dia
adalah laki-laki yang baik dan dewasa menurutku. Dia juga menyenangkan dan aku
selalu merasa nyaman saat bersamanya.
Memasuki kelas tiga
merupakan puncak dari masa-masa indah di sekolah. Dimana semangat kebersamaan
itu semakin kuat terasa saat kami akan menghadapi ujian akhir yang cukup
membuat otak kami stress setengah mati. Tetapi tidak dengan Bintang, dia tampak
begitu santai-santai saja menghadapi ujian akhir. Baginya ujian akhir bukanlah
sebuah “nightmare” yang harus
ditakuti, tetapi harus dinikmati.
“Haha… takut amat sama ujian
akhir, santai aja. Kita harus menikmati momen itu, karena saat itulah puncak
terakhir perjuangan kita bersama-sama disekolah. Abis lulus kan kita mungkin
akan saling berpisah sama teman-teman. Liat mukamu udah keliatan lebih tua 10
tahun tuh gara-gara stress.” Jelasnya sambil meledek ku yang masih memasang
tampang kusut.
Tanpa dia sadari, ada sebuah
kalimat yang dia ucapkan telah mengusik hatiku saat itu.
“Bintang… nanti kalau kamu
udah lulus kamu mau lanjutin kemana?” Tanyaku padanya dengan hati yang mulai
tidak tenang.
“Em… kemana ya? Kasih tau
gak yah?” Dia menanggapi pertanyaanku dengan sebuah candaan, membuatku kesal
dan memukul lengannya. Dia hanya tertawa lebar tanda puas telah membuat ku
penasaran setengah mati.
“Kenapa sih mau tau aja?”
Lanjutnya lagi sambil merapikan beberapa buku di meja perpustakaan.
“Pelit banget sih, kan cuma
mau tau aja masa gak boleh yang lainnya juga jawab ko kalau mereka ditanya mau
lanjutin kuliah dimana.” Jawabku kesal padanya.
“Apa ini sesuatu yang sangat
penting buat kamu? Kalau iya nanti aku jawab.” Dia balik bertanya, kali ini
pertanyaan yang sulit sekali untuk aku menjawabnya.
Sebenarnya jawaban itu telah
terbesit di otakku. Tapi aku tidak berani untuk mengatakannya. Aku terlalu
takut mengungkapkan jawaban yang justru hanya akan membuatku merasa seperti
perempuan bodoh yang tiba-tiba tanpa sadar mengungkapkan perasaan ku pada
seseorang. Aku telah bersumpah pada diriku sendiri, bahwa sampai kapanpun aku
tidak akan pernah mengungkapkan isi hatiku padanya, sebelum dia yang
mengungkapakannya terlebih dulu padaku. Tapi jika boleh aku jujur, rasanya ingin
sekali aku mengatakan bahwa dia memang penting untukku, sangat penting. Semua
tentangnya aku ingin mengetahuinya lebih dalam lagi, karena dia telah menduduki
tempat khusus di hatiku.
“Kalau kamu gak mau ngasih
tau juga gak apa-apa sih, gak terlalu penting juga.” Sangkalku dengan pasti.
Dia
hanya tersenyum dengan senyuman manisnya yang selalu membuat hatiku merasa
hangat.
Ujian akhirpun telah
dimulai, kami dibuat sibuk dan tentunya stress setengah mati. Aku terlalu stress
sepertinya saat menghadapi ujian akhir sampai-sampai setelah ujian selesai aku
jatuh sakit. Menurut dokter aku terkena gejala tifus dan harus istirahat di rumah
selama seminggu.
Selama aku berada di rumah
untuk beristirahat, aku selalu berharap dia mengirimku sebuah pesan atau
menelfonku seperti sebelumnya yang sering dia lakukan, dengan begitu aku ada
alasan untuk mengabarkan padanya bahwa aku sedang sakit. Maklum saja karena dia
tidak berada satu kelas denganku, aku yakin dia tidak tahu kalau aku tidak
masuk sekolah. Seperti harapanku, setelah dua hari aku tidak masuk sekolah
akhirnya dia menelfonku.
“Kamu sakit tifus Ri? Gimana
keadaannya sekarang?” Tanyanya dengan nada yang tampak cemas.
Aku hanya tersenyum, ada sebuah
kebahagiaan yang kini mulai merasuk kedalam hatiku.
“Iya, tapi sekarang aku udah
mulai membaik ko.” Jawabku singkat.
“Syukurlah, maaf ya aku gak
bisa jenguk kamu soalnya beberapa hari ini ada beberapa hal yang sangat penting
yang harus aku selesaikan. Kamu gak apa-apa kan? Nanti sebagai gantinya setelah
urusan ini selesai aku pasti bakal main kerumah kamu.”
Cukup mendengar suaranya,
cukup mendengar kekhawatirannya padaku, itu saja membuatku sudah merasa jauh
lebih baik. Dia tidak harus melakukan apapun, cukup dia selalu ada untukku maka
itu adalah hal terbaik dan terindah bagiku.
“Iya gak apa-apa kok.”
Akhirnya waktu berputar
dengan cepat, tanpa memberikan sedikit jedapun untuk aku menikmati masa-masa
terakhirku sebagai seorang siswi SMA. Tibalah saatnya acara perpisaha itu,
acara yang sebenarnya bukanlah acara yang menyenangkan bagiku. Acara perpisahan
itu selalu menjadi acara paling tidak ingin kualami. Jika aku boleh memohon
pada waktu untuk memundurkannya kebelakang, maka aku ingin berada dalam
waktu-waktu itu lebih lama lagi, lebih lama lagi untuk aku selalu bersamanya.
Tapi kenyataan telah membawaku pada sebuah kesadaran, bahwa hidup memang harus
terus berjalan, bahwa waktu tidak akan pernah berhenti sekerasa apapun kita
menginginkannya. Bahwa semua kejadian itu, sesakit atau seindah apapun pada
akhirnya akan menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang akan tersimpan dalam
memori otak manusia, kenangan yang akan membuat kita menyadari bahwa diri kita
tidak pernah sama lagi seperti sebelumnya. Bahwa setiap kenangan akan selalu
merubah hati seseorang dengan cara yang tak pernah diduganya. Sebuah kenangan,
hanya itulah yang pada akhirnya hidup dalam bayangan manusia karena kita tidak
akan pernah benar-benar kembali lagi kemasa-masa itu. Hanya hati yang mampu
merasakannya, mendalami dan menyelami setiap kenangan yang terjadi dalam setiap
hidup manusia saat mengingatnya kembali. Apakah kenangan itu akan membekas
begitu dalam di hati kita atau justru hanya akan tersimpan aman saja dalam
memori otak kita. Semua itu tergantung dari seberapa pentingnya kenangan itu
untuk hidup kita.
Prom night merupakan acara
tahunan yang merupakan tradisi sekolah kami yang disiapkan oleh anak-anak OSIS untuk kelas tiga setelah acara perpisahan
sekolah. Dari sekian banyak kerumunan orang-orang yang berada di acara itu, mataku
terus mencari-cari seseorang yang selalu ingin kutemui. Dan tanpa kusadari
seseorang menggandeng tanganku dari belakang dan menarikku dari kerumunan
orang-orang yang tengah berdansa malam itu. Aku mendapati sosoknya yang kini
tengah menggandengku. Dia membawaku menjauh dari kerumunan teman-teman yang
lain, menuju lantai tiga gedung sekolah kami. Dari atas sini kami dapat melihat
betapa meriahnya acara malam itu, akupun tersenyum melihatnya.
“Daripada kamu ngliatin
kebawah melulu, mending kamu lihat deh ke langit.” Ucapnya padaku yang masih
terfokus melihat lapangan basket sekolah kami yang kini lebih mirip sebagai
panggung hiburan.
Tanpa bertanya aku langsung
menuruti apa yang dia katakan padaku. Aku melihat yang dia tunjukkan dan aku
mulai tersadar kalau aku tidak mengerti apa yang dia maksud.
“Emangnya ada apa?” Tanyaku
polos yang membuatnya tertawa kecil.
“Kamu liat dilangit ada
apa?” Pintanya lagi padaku yang langsung ku turuti lagi.
“Oh… bintang ya maksudnya?”
Akupun bertanya kembali padanya sambil menatap wajahnya malam itu yang disinari
lampu koridor kelas yang temaram.
“Iya… disana ada aku kan?”
Diapun kembali berkata dengan mata masih menatap kelangit malam itu.
“Haha… oh iya ya nama kamu
Bintang, dilangit sana banyak taburan bintang-bintang, itu artinya kayak banyak
kamu dong.” Akupun terkekeh menyadari hal tersebut, dia hanya membalasnya
dengan sebuah senyum sambil terus terfokus pada taburan bintang-bintang di langit.
“Nanti kalau suatu hari kamu
kangen sama aku, kamu lihat aja bintang-bintang dilangit terus kamu teriak
bilang kalau kamu kangen sama aku. Dari tempat lain mungkin aku bisa
mendengarnya”
Kata-kata itu membuatku
tercekat tak mampu berkata apa-apa, jantungku kembali berdebar dengan kencang
seperti akan melompat keluar. Ada perasaan pedih yang mulai menggelayut di hatiku,
perasaan yang sampai saat ini masih tersimpan rapat dalam hatiku.
“Aku akan melanjutkan studi
ke luar negeri, aku harap kamu baik-baik aja disini.” Ucapnya padaku yang
masih membisu. Dengan lembut dia membelai rambutku dan tersenyum dengan
senyuman manisnya.
Malam itu merupakan terakhir
kalinya aku melihat wajahnya. Bahkan sampai pembagian ijazah pun aku sudah
tidak lagi bertemu dengannya. Aku selalu berharap bahwa dia akan menghubungiku,
memberitahukan dimana dia sekarang, tetapi mungkin itu hanya akan menjadi
impian kosong belaka.
Bertahun-tahun setelah malam
itu, dia tidak pernah lagi menghubungiku. Dan aku benar-benar kehilangan dia.
Untuk kesekian kalinya, dia telah membuatku harus terjatuh dan menahan sakit
karena ulahnya. Dia membiarkan aku memiliki perasaan itu dan semakin membuatku
terjebak dalam perasaan itu seorang diri. Dia telah berhasil membawa sebagian
hatiku dan menggoreskan sebuah kenangan yang begitu mendalam. Dia telah merubahku,
merubah hatiku.
Bulir bening itu masih
berguguran membasuh wajah ku. Entah mengapa dada ku selalu terasa sesak setiap
aku mengingatnya. Sudah berlalu selama 10 tahun perpisahan antara aku dan dia.
Dan selama itu, aku tidak pernah benar-benar melupakannya. Dia pernah
mengatakan padaku bahwa jika aku merindukannya, maka aku bisa melihat
bintang-bintang di langit dan berteriak mengatakan jika aku merindukannya.
Entah sudah berapa banyak aku melakukan hal bodoh seperti itu setiap malam,
tetapi apa dia mendengarnya? Apa dia juga merasakannya? Apakah dia masih
mengingat ku, atau jangan-jangan dia sudah melupakan aku? Apakah dia tahu
betapa aku sangat merindukannya, aku ingin dia datang lagi padaku dan aku ingin
memeluknya erat dan tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi dari hidupku.
Aku ingin mengungkapkan semua perasaan ku padanya, bahwa aku mencintainya.
Sejak pertama kali dia mengulurkan tangannya padaku, menggenggam tanganku,
menyebutkan namanya. Aku sudah jatuh cinta padanya. Tapi semua itu seperti
sebuah impian yang tak berujung. Aku tidak pernah melupakan setiap kenangan ku
bersamanya. Dia selalu ada dalam setiap doa-doa yang aku panjatkan. Kadang aku
juga berharap, dia dapat melakukan hal yang sama pada ku, selalu mengingat ku
dan selalu ada dalam doa-doanya.
Aku dibuat tidak mengerti
dengan sikapnya yang pergi begitu saja dan menghilang tak berbekas dari hidup ku.
Bagaimana bisa dia melakukan hal itu pada ku. Jika saja dia tahu bahwa
sesungguhnya aku benar-benar merasa kehilangan. Bahwa hatiku selalu tersiksa
menahan kerinduan ku padanya. Dalam perjuangan ku melawan rasa rindu ku
padanya, harus ku akaui, aku selalu kalah. Aku selalu kalah dan membiarkan
hatiku tenggelam dalam kerinduan ku, lagi.
Akankah cinta itu berpihak pada
ku? Atau Tuhan punya cara lain untuk membawa ku kedalam jalan cinta yang lain,
yang akan membawaku pada kisah yang lebih membahagiakan. Atau Tuhan memiliki
rencana indah lain untuk mempertemukan ku dengan dia suatu saat nanti, dengan
cara-caranya yang ajaib. Ku biarkan waktu yang kelak menjawab itu semua, karena
hanya waktulah yang tahu seberapa besar nilai cinta itu sebenarnya.
Aku pun terbangun dari
tempat duduk ku. Ku usap air mata yang tersisa diwajah ku. Kutarik koper ku
memasuki pintu masuk menuju pesawat yang akan membawaku pergi jauh dari tempat
ku sekarang. Aku sudah memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di Firma Hukum
di Boston. Aku akan tinggal disana mungkin untuk jangka waktu yang sangat lama
dan memulai hidup baruku disana, melupakan semua hal yang menyakitkan disini.
Membuka lembaran hidup baru dan tentunya membuka hati ku juga untuk menerima
orang baru yang mungkin akan masuk dalam hidup ku dan merubah hati ku menjadi
jauh lebih baik.
Bagussss,,, di tunggu kelanjutanya.
BalasHapusnamanya juga prasaan. ceweknya juga keras kepala hahahah
Bagussss,,, di tunggu kelanjutanya.
BalasHapusnamanya juga prasaan. ceweknya juga keras kepala hahahah